ADA sebuah pameo yang mengatakan, ”Jangan meremehkan tangisan seorang anak.” Ya, ungkapan itu sepertinya memang benar. Pasalnya, ketika seorang anak menangis, berarti ada keadaan tak normal dalam dirinya, entah berupa keadaan tidak nyaman, rasa takut, minta perhatian, lapar, atau pun merasa ada yang tak beres pada tubuhnya.
Nah, khusus untuk yang terakhir, memang sudah sepantasnya Anda, terutama para orang tua, memberi perhatian lebih pada anak. Dan, sebuah saran, jangan menunggu terlalu lama untuk menunggu keluhan sakit pada anak, agaknya perlu dipertimbangkan. Karena, ada beberapa penyakit atau kelainan pada anak, yang menyerang dengan gejala sangat singkat, dan hanya bisa menyisakan penyesalan pada orang tua atas penanganan yang terlambat terhadap buah hati mereka.
Contoh bentuk penyakit itu adalah Arteriovenous Malformation (AVM). Anda mungkin kurang familiar dengan penyakit bawaan lahir ini. Memang, ”pamor”-nya kalah jika dibandingkan tumor atau penyakit pembuluh darah lainnya, tapi hal itu tak lantas mengurangi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh penyakit kelainan pada pembuluh darah ini.
AVM adalah sebuah bom waktu dalam tubuh kita. Itulah yang paling menakutkan. Maaf, bukan bermaksud menakuti, tapi inilah sebenarnya fungsi kita, para orang tua, untuk cekatan menanggapi keluhan anak.
Saat anak Anda mengeluh pusing, misalnya. Waspadalah! Apalagi jika keluhan itu muncul dengan tiba-tiba, lebih dari sekali di tempat yang sama, dan keadaan itu semakin menjadi-jadi, apalagi jika disertai muntah-muntah serta kejang.
Tak jauh beda dengan stroke yang banyak dialami para lanjut usia (lansia), tentu saja. Hanya, gejala itu terjadi di usia dini. Ya, tak akan banyak yang menyangka, sakit kepala singkat itu berakibat fatal. Anak seumuran sekolah yang tadinya bisa berbicara lancar, tiba-tiba jadi terbata-bata. Pun gerak tubuh yang sejatinya sudah sempurna, mendadak jadi kaku atau mungkin mendadak lumpuh.
Anak pun didiagnosa mengalami stroke usia dini. Penyakit AVM memang menjadi salah satu penyebab stroke di usia dini. Hm, lalu, bagimana benang merahnya?
Mari kita runut dari awal! AVM atau malformasi pembuluh darah arteri dan vena merupakan kelainan kongenital (bawaan lahir) yang meskipun tergolong jarang terjadi, berpotensi memberikan gejala neurologi cukup serius saat mengalami vaskularisasi. Dampaknya? Yang paling serius adalah kematian.
Kelainan pembuluh darah itu berupa gumpalan yang sebenarnya bisa terjadi di pembuluh darah mana saja dalam tubuh kita. Namun, akan menjadi sangat fatal jika kelainan itu terjadi di otak.
Di otak, AVM bisa muncul di area lobus otak mana pun, baik pembuluh darah besar maupun kecil. Penyebabnya, hingga sekarang belum banyak diketahui.
Disinyalir, pembentukan darah yang kurang sempurna adalah masalahnya. Karena itu, AVM disebut kelainan bawaan lahir. Tapi, penyakit yang lebih banyak terdeteksi setelah muncul keluhan-keluhan itu bukanlah kelainan turunan.
Pada tingkatan awal, para penderita biasanya akan merasakan nyeri di kepala dan kejang mendadak. Untuk kondisi tertentu, AVM dapat menyebabkan cairan di otak menjadi terhambat, lalu terakumulasi di kepala, menimbulkan hidrosefalus.
Biasanya, banyak orang yang tidak menyangka, bahwa nyeri di kepala dan kejang mereka adalah AVM. Memang, penyakit yang diikuti dengan pendarahan ”sedikit tapi sering” ini lebih mudah diketahui melalui CT Scan atau MRI. Padahal, tak banyak orang yang mau serta-merta ”iseng” memerikasakan diri dengan peralatan bantuan ”fotokopi” bagian dalam kepala itu.
Baru setelah mengalami gejala hebat seperti hilang kesadaran, nyeri kepala yang mendadak dan semakin kuat, mual, muntah, ekskresi yang tidak dapat dikendalikan (defekasi atau urinasi), serta penglihatan kabur, barulah ada tindakan.
Bom Waktu
Menderita AVM ibarat menyimpan bom waktu dalam otak. Pasalnya, menurut Prof Dr Zainal Muttaqin SpBs PhD, dokter spesialis bedah saraf (neurosurgeon), pembuluh darah AVM sewaktu-waktu akan pecah, sehingga penderita diibaratkan menyimpan bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
”Sebuah data statistik menyatakan, empat persen penderita AVM mengalami pembuluh darah pecah tiap tahun. Tiga persen penderita AVM dengan pembuluh darah pecah berisiko cacat, sedang satu persen sisanya meninggal dunia,” terang dokter dari RS Kariadi Semarang itu.
Pecahnya pembuluh darah adalah bagian akut dari AVM, karena ancamannya sangat serius. Namun, justru hal inilah yang acap kali terjadi. Dalam beberapa kasus besar, penderita AVM baru tahu kalau ia mengidap AVM ketika terkena stroke. Di sinilah ”benang merah” antara stroke dengan AVM tersambung.
Tidak seperti penyebab stroke yang umumnya diketahui masyarakat, karena tekanan darah atau kadar gula darah tinggi, ada juga stroke yang terjadi karena kondisi abnormal pada pembuluh darahnya: ”bom” yang tiba-tiba meledak!
Penghitungan kemungkinan pecahnya AVM, menurut dr Zainal, bergantung pada umur penderita saat diketahui mengidap kelainan AVM. Misalnya, seorang anak berusia sepuluh tahun mengeluh sakit kepala luar biasa hingga tak sadarkan diri. Kemudian orang tuanya mengadakan pemeriksaan MRI, diketahui si anak mengidap AVM. Jika dibuat umur hidup manusia rata-rata adalah 60 tahun, maka si anak yang baru berumur 10 tahun masih punya sisa waktu 50 tahun sebelum berumur 60 tahun. Sedangkan setiap tahun, ada empat persen kemungkinan penderita AVM dengan pembuluh darah pecah.
ìJadi, si anak yang berusia sepuluh tahun tersebut memiliki kemungkinan dua kali pecah pembuluh darah yang bisa berisiko kematian, cacat, lumpuh atau stroke,î papar pria asli Semarang itu.
Sangat berisiko. Maka, pencegahan sedari dini adalah satu-satunya solusi. Jika kita lebih jeli, ada banyak tanda yang sebenarnya bisa mengarah pada AVM. Meski ada beberapa kasus yang tiba-tiba meninggal tanpa gejala khusus, biasanya AVM tetap memunculkan gejala, baik yang ”ringan” seperti nyeri kepala, mual, dan kejang, atau yang terhitung berat seperti epilepsi dan hidrosefalus.
Bagaimana penanganannya? Menurut dr Zainal, ada tiga bentuk penanganan, yaitu pembedahan (operasi), embolisasi (penyumbatan), dan radioterapi (penyinaran).
1. Pembedahan
Pembedahan dilakukan untuk mengambil AVM berukuran kecil yang terdapat di permukaan otak. AVM berukuran kecil tersebut diambil dan dibuang, agar tidak menjadi jalur lalu lintas darah.
2. Embolisasi
Embolisasi dilakukan dengan memasang kateter lewat pembuluh darah di paha yang diteruskan sampai ke otak. AVM diisi oleh cairan (embolus) yang berfungsi memadatkan pembuluh darah. Jika pembuluh darah AVM memadat, tidak akan terisi darah, sehingga tidak akan mudah pecah. Embolisasi dilakukan untuk menangani AVM berukuran besar yang letaknya di permukaan otak.
3. Radioterapi
Radioterapi dilakukan untuk menangani AVM yang letaknya di dalam, sulit dijangkau dan ukurannya kecil. Radioterapi menggunakan sinar Gamma Knife. Setelah disinari, pembuluh darah akan menebal dan lubangnya menjadi menyempit sampai buntu dengan sendirinya. Pasca penyinaran, AVM tak langsung hilang, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk hilang sepenuhnya. AVM dengan besar satu sentimeter membutuhkan waktu satu tahun untuk penyembuhan pasca radioterapi. Sedangkan AVM sebesar dua sentimeter membutuhkan waktu dua tahun, dan seterusnya.
Dilihat dari sisi mana pun, pencegahan sejak dini pastilah lebih baik dari penyesalan di akhir. Lalu, kenapa kita tidak mencari tahu sejak dini?













No comments:
Post a Comment
Jika ada yang ingin disampaikan tentang isi blog ini, mohon kiranya berkenan untuk memberikan komentar di sini